Dunia Arsitek

Kenali Dulu Biaya Pemasangan Daun Pintu dan Jendela

Minggu ini tulisan dapat bertemakan perihal penempatan daun pintu serta daun jendela. Tulisan ini sebagai serangkaian dari tulisan minggu sebelumnya perihal penempatan plafon. Pekerjaan penempatan daun pintu serta daun jendela sebagai stage pekerjaan sesudah itu yang umum dilakukan sehabis pekerjaan plafon terpecahkan.

Sebelum bicara perihal tehnis pekerjaan, alangkah lebih baik saya dapat urai beberapa jenis daun pintu serta daun jendela yang biasa difungsikan orang Indonesia. Style yang disebut terdiri menurut bahan baku yang difungsikan. Ada dua style bahan baku daun pintu serta daun jendela yang difungsikan, adalah memiliki bahan baku kayu serta harga kusen aluminium.

Style daun pintu serta jendela yang memiliki bahan kayu terbagi dalam beragam jenis menurut style kayu yang difungsikan. Jadi kabar, kayu yang umum difungsikan untuk bahan baku material ini merupakan kayu jati, kayu kamper, kayu meranti, serta kayu mahoni.

Sekarang harga yang tersebar di pasar untuk kayu jati merupakan Rp2.500.000/unit untuk daun pintu serta Rp1.000.000/unit untuk daun jendela. Untuk kayu kamper daun pintu dihargai Rp1.600.000/unit, serta daun jendela Rp800.000/unit.

Baca Juga : harga kusen kayu

Untuk kayu meranti daun pintu dilabeli Rp1.300.000/unit, serta daun jendela Rp600.000/unit. Nah yang paling akhir merupakan kayu mahoni punyai harga termurah, yaitu untuk daun pintu seharga Rp1.000.000/unit, serta daun jendela Rp300.000/unit.
Harga tercantum di atas mungkin tidak serupa di antara satu lokasi dengan lokasi yang lain. Rata-rata ketidakcocokan ini dipicu oleh persediaan bahan baku di lokasi perihal.

Perihal ukuran yang umum difungsikan untuk beberapa umumnya untuk daun pintu, tebal 4-6 cm, lebar 80 cm, serta tinggi 2-2,10 m. Sedang untuk daun jendela lebar 50 cm dengan tinggi 110 cm. Jikalau ada ukuran lain sesuai sama keinginan pembeli, jadi harga dapat fleksibel terkait negosiasi dengan perajin kayu.

READ  Estimasi Upah Harga Borongan Bangunan di Tengah Pandemi Corona
Back To Top